RADARTASIKMALAYA.TV— Optimisme global meredakan kekhawatiran pasar energi, sementara paket stimulus pemerintah memperkuat keyakinan investor terhadap prospek ekonomi domestik. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melonjak 2,69 persen mencatat reli kuat pada sesi I perdagangan Kamis (25/6/2026).
Indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu melesat 158 poin atau 2,69% hingga menembus level 6.041, didorong kombinasi sentimen positif dari luar negeri dan domestik yang kembali membangkitkan minat investor terhadap aset berisiko.
Penguatan signifikan tersebut terjadi seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Di saat yang sama, pelaku pasar juga menyambut positif langkah pemerintah Indonesia yang menggulirkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk semester II-2026.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai perkembangan negosiasi antara AS dan Iran telah memperbaiki persepsi pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Harapan meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mendorong semakin banyak kapal tanker kembali melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dunia.
Menurut Pilarmas, berkurangnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global telah meningkatkan selera risiko investor.
Kondisi tersebut turut mengalirkan dana ke pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, yang selama beberapa pekan terakhir bergerak dalam bayang-bayang ketidakpastian global.
Meski demikian, investor masih mencermati sejumlah agenda ekonomi penting dari Amerika Serikat. Salah satu yang menjadi fokus utama adalah rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi yang selama ini menjadi acuan utama Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Konsensus pasar memperkirakan indeks PCE AS pada Mei 2026 meningkat menjadi 0,5% secara bulanan dan 4,1% secara tahunan.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang masing-masing tercatat sebesar 0,4% dan 3,8%.
Pilarmas menilai apabila realisasi data inflasi tersebut sesuai atau bahkan melampaui ekspektasi pasar, peluang Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat masih terbuka.
Situasi itu berpotensi memengaruhi pergerakan arus modal global dan menjadi salah satu faktor yang terus dipantau investor.
Dari kawasan Asia, sentimen positif juga datang dari China.
Pasar menyambut langkah Bank Sentral China (PBOC) yang berencana memperkenalkan fasilitas reverse repo overnight sebagai bagian dari reformasi kebijakan moneternya.
Kebijakan tersebut dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas likuiditas jangka pendek sekaligus memperkuat sistem keuangan nasional.
Selain itu, langkah PBOC diharapkan mampu mendukung momentum pemulihan ekonomi China yang memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas perdagangan dan investasi di kawasan Asia.
Sementara dari dalam negeri, penguatan IHSG terjadi ketika investor masih mencerna hasil evaluasi MSCI yang tetap mempertahankan status Indonesia dalam kelompok pasar berkembang (emerging market).
Meski demikian, MSCI masih menyoroti sejumlah aspek terkait transparansi dan aksesibilitas pasar modal Indonesia yang dinilai perlu terus ditingkatkan.
Di tengah dinamika tersebut, sentimen domestik justru memperoleh dorongan tambahan dari kebijakan pemerintah yang menggelontorkan stimulus ekonomi sebesar Rp26,34 triliun pada semester II-2026.
Paket stimulus tersebut dirancang untuk menjaga daya beli masyarakat, menopang konsumsi domestik, serta memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ancaman perlambatan ekonomi global.
Pilarmas menilai kebijakan tersebut memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat daya tahan domestik menghadapi berbagai tantangan eksternal.
Dari sisi pergerakan saham, sejumlah emiten mencatat lonjakan signifikan pada sesi I perdagangan.
Saham PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI), PT Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk (RBMS), PT Bhakti Multi Artha Tbk (BHAT), PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI), serta PT MD Entertainment Tbk (FILM) masuk dalam jajaran top gainers.
Sebaliknya, tekanan jual masih membayangi beberapa saham yang masuk daftar top losers, yaitu PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR), PT Fortune Indonesia Tbk (FORU), PT Square Gate One Tbk (SQMI), PT Ifishdeco Tbk (IFSH), dan PT Shield On Service Tbk (SOSS).
Untuk strategi perdagangan, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan rekomendasi beli (buy).
Secara teknikal, saham TPIA dinilai memiliki area support di level 1.760 dan resistance pada level 2.180 yang dapat menjadi acuan investor dalam menentukan strategi transaksi jangka pendek.












