IHSG Anjlok 2,73 Persen ke Level 5.835, Parade IPO Menjadi Salah Satu Penyebabnya

RADARTASIKMALAYA.TV— Tekanan geopolitik, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed, pelemahan rupiah, hingga maraknya parade IPO awal Juli memicu aksi jual besar-besaran di Bursa Efek Indonesia sehingga AHSG anjlok.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi I perdagangan Jumat (26/6/2026) dengan pelemahan tajam.

Indeks ditutup merosot 2,73% ke level 5.835 setelah sebelumnya sempat bergerak di zona hijau pada awal perdagangan.

Tekanan jual berlangsung hampir merata di seluruh sektor.

BACA JUGA: Harga Emas Perhiasan Hari Ini 25 Juni 2026 Kompak Turun, Cek Daftar Lengkap di Raja Emas Indonesia dan Laku Emas

Dari total saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 593 saham ditutup melemah, sementara hanya 91 saham menguat dan 123 saham bergerak stagnan.

Nilai transaksi pada sesi pertama tercatat mencapai Rp6,39 triliun.

Koreksi tersebut sekaligus menghapus penguatan yang sempat dibukukan IHSG pada perdagangan sehari sebelumnya.

Pada Kamis (25/6/2026), indeks berhasil menguat 1,96%, namun gagal mempertahankan momentum positif hingga akhir pekan.

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai pelemahan IHSG terjadi setelah indeks kembali turun di bawah level psikologis 6.000.

Menurut analis BRIDS, tekanan jual meningkat setelah IHSG gagal menembus area resistance di level 6.100 sehingga peluang terjadinya konsolidasi jangka pendek masih cukup terbuka.

Dalam riset yang dirilis Jumat siang, BRIDS memperkirakan area 5.730-5.850 menjadi level support terdekat yang perlu dipertahankan.

Sementara itu, rentang 6.000-6.130 dipandang sebagai area resistance yang akan menjadi penentu arah pergerakan indeks berikutnya.

Risiko Global dan Suku Bunga AS Jadi Sentimen Utama

BRIDS menjelaskan, pelemahan pasar saham domestik tidak terlepas dari meningkatnya kembali kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik global.

Sentimen negatif muncul setelah adanya laporan mengenai serangan terhadap kapal kargo di Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia dan memicu kenaikan harga energi.

Di saat yang sama, data ekonomi Amerika Serikat turut memperkuat kehati-hatian pelaku pasar.

BRIDS mencatat inflasi Core Personal Consumption Expenditures (Core PCE) Amerika Serikat pada Mei 2026 meningkat 0,3% secara bulanan (month-on-month/MoM) dan 3,4% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Kondisi tersebut dinilai memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve masih akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer.

Meski demikian, BRIDS melihat sentimen positif masih datang dari sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) setelah laporan keuangan Micron menunjukkan kinerja yang solid dan kembali membangkitkan optimisme terhadap prospek industri semikonduktor.

Pelemahan Rupiah dan Gelombang IPO Berpotensi Tekan Likuiditas

Dari dalam negeri, BRIDS juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Menurut perusahaan sekuritas tersebut, kondisi itu mencerminkan masih kuatnya tekanan eksternal sekaligus berpotensi membatasi arus masuk dana asing ke pasar saham Indonesia.

Selain faktor eksternal, investor mulai mencermati padatnya agenda penawaran umum perdana saham (IPO) yang dijadwalkan berlangsung pada awal Juli 2026.

BRIDS menilai gelombang IPO tersebut berpotensi menyerap sebagian likuiditas pasar dalam jangka pendek sehingga menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan IHSG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *