RADARTASIKMALAYA.TV— Arus keluar dana asing membebani pasar saham Indonesia di tengah sikap wait and see investor menjelang rilis data ekonomi, sementara sentimen positif dari China belum mampu mengangkat IHSG.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada sesi I perdagangan Selasa (30/6/2026).
Bursa domestik melemah tajam setelah dihantam kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang mendorong investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG hingga penutupan sesi I turun 141 poin atau 2,42 persen ke level 5.679.
Koreksi tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar yang masih menunggu kepastian dari sejumlah agenda ekonomi global maupun domestik.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG dipicu dominannya sikap wait and see investor di tengah ketidakpastian yang masih membayangi pasar keuangan.
Menurut Pilarmas, pelaku pasar memilih menahan transaksi sambil menanti perkembangan berbagai sentimen penting yang berpotensi memengaruhi arah investasi dalam jangka pendek.
Dari sisi global, perhatian investor masih tertuju pada rencana dimulainya kembali perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Doha, Qatar.
Walaupun kedua negara telah menyepakati penghentian sementara aksi saling serang di kawasan Selat Hormuz, pasar dinilai masih meragukan keberlanjutan gencatan senjata tersebut.
Pilarmas menjelaskan bahwa kekhawatiran semakin meningkat setelah Iran menegaskan tetap akan mengawasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur distribusi energi paling strategis di dunia.
Kondisi tersebut membuat investor global tetap berhati-hati meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyampaikan bahwa proses negosiasi damai akan kembali dilanjutkan.
“Kondisi itu membuat investor tetap berhati-hati meski Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan negosiasi damai akan kembali dilanjutkan,” tulis Pilarmas dalam risetnya, seperti dikutip, Selasa (30/6/2026).
Di tengah ketidakpastian geopolitik, China justru memberikan sinyal perbaikan ekonomi.
Data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur pada Juni tercatat meningkat menjadi 50,3 dari sebelumnya 50,0, sekaligus melampaui ekspektasi pasar sebesar 50,1.
Sementara itu, PMI sektor nonmanufaktur juga naik menjadi 50,2 dari 50,1, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebesar 49,9.
Perbaikan aktivitas ekonomi tersebut didukung oleh masih kuatnya permintaan ekspor, khususnya dari sektor teknologi.
Selain itu, People’s Bank of China (PBOC) turut menjaga likuiditas dengan menggelontorkan dana senilai 300 miliar yuan melalui operasi reverse repo.
Namun demikian, Pilarmas menilai kabar positif dari Negeri Tirai Bambu belum cukup kuat untuk mengangkat minat beli investor di pasar saham Indonesia.
Menurut perusahaan sekuritas tersebut, tekanan terhadap IHSG lebih banyak dipengaruhi faktor-faktor domestik.
Investor disebut masih mencermati sejumlah agenda penting, termasuk rilis data ekonomi nasional dan hasil evaluasi indeks MSCI yang dinilai berpotensi memengaruhi arus investasi asing ke pasar modal Indonesia.
Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada regulasi baru terkait Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara yang memberikan perlindungan hukum terhadap pembeli obligasi yang diterbitkan lembaga tersebut.
Pilarmas berpandangan bahwa kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai aspek tata kelola (governance) dan transparansi sehingga meningkatkan kehati-hatian investor, khususnya investor asing.
Dalam kajiannya, Pilarmas menilai kombinasi evaluasi MSCI dan regulasi baru mengenai Danantara menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya arus keluar dana asing (foreign outflow) dari pasar keuangan Indonesia.
Tekanan jual pun terlihat hampir merata pada seluruh sektor selama sesi I perdagangan.
Di tengah pelemahan pasar, saham PEGE, AYLS, MGNA, BOBA, dan ENAK masih mampu mencatatkan penguatan.
Sebaliknya, MMIX, PANS, RGAS, COCO, dan OILS menjadi lima saham dengan penurunan terdalam pada paruh pertama perdagangan.
Meski IHSG mengalami koreksi tajam, Pilarmas masih melihat peluang investasi pada saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU).
Sekuritas tersebut mempertahankan rekomendasi buy dengan area support di level 4.240 dan resistance pada kisaran 5.250, seiring prospek teknikal yang dinilai masih menarik untuk dicermati investor.












