Ini Faktor Penyebab IHSG Naik di Awal Juli 2026, Berikut Ini Saham Top Gainers dan Top Losers

RADARTASIKMALAYA.TV— IHSG naik di awal Juli 2026 dengan penguatan ke level 5.690 di tengah optimisme pasar global.

Meski demikian, investor masih mencermati prospek suku bunga The Fed serta tekanan ekonomi domestik yang tercermin dari inflasi, kontraksi manufaktur, dan defisit neraca perdagangan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Juli 2026 dengan kinerja positif. Pada sesi I perdagangan Rabu (1/7/2026), IHSG ditutup menguat 47 poin atau 0,84 persen ke level 5.690, didorong sentimen positif dari penguatan mayoritas bursa saham Asia.

Penguatan indeks domestik terjadi di tengah meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap perkembangan geopolitik global, khususnya terkait upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai berpotensi meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

BACA JUGA: Daftar Harga BBM Terbaru Per 1 Juli 2026, Ayo Cek Harga BBM Paling Update di SPBU

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai perhatian investor saat ini tertuju pada perkembangan pembicaraan antara Washington dan Teheran yang difasilitasi Qatar di Doha.

Meskipun utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah tiba di Doha, mediator Qatar mengisyaratkan bahwa belum akan ada pertemuan langsung antara delegasi AS dan Iran.

Kendati demikian, Pilarmas menilai pasar tetap memantau setiap perkembangan negosiasi tersebut.

Harapan bahwa kedua negara dapat menemukan titik temu untuk meredakan konflik menjadi salah satu faktor yang menopang sentimen positif di pasar keuangan global.

Di sisi lain, proses diplomasi tersebut masih menghadapi tantangan karena Amerika Serikat dan Iran terus berupaya mencari solusi permanen atas konflik yang berlangsung.

Iran juga disebut tetap mempertahankan sikapnya terkait kendali atas jalur pelayaran strategis yang menjadi perhatian dunia.

Bayang-bayang Kenaikan Suku Bunga The Fed Masih Membayangi

Meski sentimen eksternal cenderung positif, Pilarmas mengingatkan bahwa pasar tetap dibayangi ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

Spekulasi mengenai kebijakan moneter yang lebih ketat kembali menguat menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit pada Kamis.

Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu indikator penting yang akan memengaruhi arah kebijakan The Fed dalam beberapa waktu ke depan.

Apabila data tenaga kerja menunjukkan kondisi ekonomi AS masih solid, peluang kenaikan suku bunga diperkirakan semakin besar.

Kondisi tersebut berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan global, termasuk pasar saham Indonesia.

Data Ekonomi Domestik Masih Menjadi Tantangan

Dari dalam negeri, penguatan IHSG dinilai berlangsung di tengah berbagai indikator ekonomi yang masih menunjukkan tekanan.

Pilarmas mencermati bahwa pergerakan sejumlah saham konglomerasi menjadi salah satu penopang indeks meskipun sejumlah data makro belum sepenuhnya mendukung.

Salah satu indikator yang menjadi sorotan adalah aktivitas manufaktur nasional.

Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun tajam menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei.

Angka tersebut menandai level terendah sejak Juni 2025 sekaligus menunjukkan sektor manufaktur kembali berada di zona kontraksi.

Tekanan terhadap sektor industri dinilai berkaitan dengan melemahnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga berbagai komoditas.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Juni 2026 mencapai 0,44 persen secara bulanan.

Secara kumulatif sejak awal tahun, inflasi tercatat sebesar 1,79 persen, sedangkan inflasi tahunan mencapai 3,34 persen.

Pilarmas menilai kenaikan inflasi dipengaruhi faktor musiman, penyesuaian harga sejumlah komoditas, serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Inflasi tahunan yang mulai mendekati batas atas target Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen dinilai menjadi perhatian bagi otoritas moneter.

Selain inflasi, pasar juga mencermati memburuknya neraca perdagangan Indonesia.

BPS mencatat neraca perdagangan Mei 2026 mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar, menjadi defisit pertama dalam enam tahun terakhir.

Menurut Pilarmas, kondisi tersebut menunjukkan kebijakan suku bunga tinggi yang ditempuh Bank Indonesia belum sepenuhnya efektif dalam meredam tekanan inflasi.

Karena itu, bank sentral diperkirakan akan tetap aktif menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan laju inflasi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Saham Top Gainers dan Top Losers

Pada sesi I perdagangan, saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar ditempati oleh COCO, BBRM, CSMI, ARTA, dan SHIP.

Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan terdalam berasal dari MMIX, AYLS, RONY, SMKL, dan BKDP.

Rekomendasi Saham

Pilarmas Investindo Sekuritas turut memberikan rekomendasi terhadap saham BRPT.

Perusahaan sekuritas tersebut masih mempertahankan rekomendasi buy, dengan area support di kisaran 1.240 dan resistance pada level 1.515.

Secara keseluruhan, pergerakan IHSG pada awal Juli mencerminkan keseimbangan antara sentimen positif dari pasar global dan berbagai tantangan ekonomi domestik.

Ke depan, arah indeks diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi geopolitik, kebijakan suku bunga The Fed, serta respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *