RADARTASIKMALAYA.TV— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penguatan pada pembukaan perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026.
Indeks bergerak naik setelah sehari sebelumnya berhasil kembali menembus level psikologis 6.500.
Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI) sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 6.526,30.
Posisi tersebut mencerminkan kenaikan 24,71 poin atau 0,38% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.501,59.
Penguatan IHSG pada awal perdagangan juga ditopang oleh breadth pasar yang cukup positif.
Sebanyak 307 saham tercatat menguat, sedangkan 101 saham bergerak turun dan 555 saham lainnya belum mengalami perubahan harga.
Aktivitas transaksi turut menunjukkan geliat investor. Nilai transaksi pada awal perdagangan mencapai sekitar Rp307,1 miliar dengan volume 588,6 juta saham.
Adapun frekuensi transaksi tercatat sebanyak 47.950 kali.
Meski demikian, laju IHSG pada perdagangan terakhir pekan ini masih menghadapi sejumlah katalis yang berpotensi meningkatkan volatilitas.
Investor perlu mencermati kombinasi sentimen eksternal, kebijakan moneter global, perkembangan ekonomi Asia, hingga rilis sejumlah indikator makroekonomi domestik.
Konflik AS-Iran Jadi Risiko Eksternal
Dari pasar global, perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar.
Ancaman Amerika Serikat untuk menjatuhkan sanksi ekonomi yang lebih berat terhadap Iran serta memperketat blokade meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Risiko tersebut juga berkaitan dengan posisi Selat Hormuz sebagai salah satu jalur strategis perdagangan energi dunia.
Apabila ketegangan meningkat dan mengganggu lalu lintas pelayaran, pasar berpotensi kembali menghadapi tekanan dari sisi harga minyak dan inflasi.
Kenaikan harga energi dapat menjadi sentimen negatif bagi aset berisiko karena berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan pada saat yang sama mempersempit ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Yield US Treasury Masih Jadi Perhatian
Investor global juga masih mencermati pergerakan imbal hasil atau yield US Treasury tenor panjang.
Rencana Departemen Keuangan Amerika Serikat untuk meningkatkan program buyback surat utang jangka panjang, termasuk kemungkinan transaksi dengan nilai lebih dari US$4 miliar per penerbitan, belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran pasar.
Pelaku pasar masih memperhitungkan sejumlah persoalan fundamental Amerika Serikat, mulai dari risiko inflasi, pelebaran defisit fiskal hingga besarnya kebutuhan penerbitan utang pemerintah.
Kondisi tersebut membuat yield obligasi pemerintah AS tetap menjadi salah satu indikator penting bagi pasar saham global.
Kenaikan yield umumnya meningkatkan daya tarik aset berpendapatan tetap sekaligus dapat menekan valuasi saham, terutama saham yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan suku bunga.
Sikap The Fed Membatasi Ruang Penguatan Aset Berisiko
Dari sisi kebijakan moneter, investor juga mencermati risalah Federal Open Market Committee (FOMC).
Risalah tersebut memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat The Federal Reserve mengenai arah suku bunga ke depan.
Mayoritas pejabat masih mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%-3,75%.
Namun, sebagian pejabat melihat perlunya mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
Perbedaan pandangan tersebut membuat ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed menjadi lebih hati-hati.
Bagi pasar saham, kondisi ini berpotensi membatasi ruang penguatan aset berisiko apabila investor kembali memperhitungkan kemungkinan suku bunga bertahan tinggi lebih lama.
Inflasi Jepang dan Kebijakan China Jadi Sorotan
Dari kawasan Asia, investor mencermati perkembangan inflasi Jepang yang kembali berada di level 2% secara tahunan pada Juli 2026.
Di sisi perdagangan, Jepang mencatat defisit neraca perdagangan sebesar JPY634,5 miliar.
Sementara itu, dari China, People’s Bank of China (PBOC) mempertahankan Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun di level 3% dan LPR lima tahun sebesar 3,5%.
Kebijakan tersebut kembali dipertahankan untuk bulan ke-15 berturut-turut di tengah munculnya indikasi perlambatan ekonomi domestik.
Keputusan PBOC menjadi perhatian karena prospek perekonomian China memiliki pengaruh cukup besar terhadap aktivitas perdagangan dan harga komoditas di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Data Neraca Pembayaran Indonesia Dinanti Investor
Dari dalam negeri, perhatian investor akan tertuju pada rilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan transaksi berjalan kuartal II-2026 oleh Bank Indonesia (BI).
Pada kuartal I-2026, NPI mencatat defisit sekitar US$9,1 miliar. Pada periode yang sama, transaksi berjalan mengalami defisit US$4 miliar atau setara 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Data kuartal II akan menjadi salah satu indikator untuk mengukur kondisi sektor eksternal Indonesia.
Investor akan melihat apakah tekanan pada neraca eksternal mulai mereda sekaligus mencermati perkembangan arus modal asing yang berpotensi memberikan dukungan terhadap pasar keuangan domestik.
Likuiditas dan Kredit Jadi Katalis Domestik
Selain NPI, data uang beredar Juli 2026 yang akan dirilis BI juga menjadi perhatian pelaku pasar.
Data tersebut penting untuk melihat perkembangan likuiditas perekonomian serta kesinambungan pertumbuhan kredit.
Sebagai gambaran, jumlah uang beredar dalam arti luas atau M2 pada Juni 2026 tumbuh 8,7% secara tahunan menjadi Rp10.432,8 triliun.
Pada periode yang sama, penyaluran kredit tercatat tumbuh 12,1%.
Perkembangan terbaru M2 dan kredit akan menjadi indikator penting bagi investor untuk menilai kekuatan permintaan domestik.
Pertumbuhan likuiditas dan kredit yang tetap solid berpotensi memberikan dukungan terhadap aktivitas ekonomi dan kinerja sektor perbankan.
Dengan demikian, meski IHSG membuka perdagangan Jumat di zona hijau dan berhasil mempertahankan level 6.500, ruang penguatan indeks tetap akan sangat bergantung pada kemampuan pasar menyerap berbagai risiko eksternal serta respons investor terhadap data ekonomi domestik.
Level 6.500 kini menjadi area psikologis penting bagi IHSG. Jika indeks mampu mempertahankan posisi di atas level tersebut, sentimen pasar berpotensi tetap positif.
Sebaliknya, peningkatan tekanan global, terutama dari arah yield US Treasury, geopolitik dan ekspektasi suku bunga The Fed, dapat memicu kembali aksi profit taking menjelang penutupan perdagangan pekan ini.






