RADARTASIKMALAYA.TV— Penguatan sektor energi dan sentimen positif dari peringkat utang Indonesia menopang laju IHSG di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang kembali memicu lonjakan harga minyak.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan tren positif pada penutupan perdagangan Selasa (14/7/2026).
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu tetap berakhir di zona hijau dengan kenaikan tipis 1,68 poin atau 0,03% ke level 6.039,5.
Pergerakan positif IHSG ditopang oleh mayoritas sektor yang menguat serta menguatnya sejumlah saham berkapitalisasi besar.
BACA JUGA: Keren, Balsa Sekulic Antusias Gabung Persib, Siap Jawab Ekspektasi Bobotoh dengan Kerja Keras
Di jajaran indeks LQ45, saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) menjadi salah satu bintang dengan lonjakan 9,5%, disusul PT United Tractors Tbk (UNTR) yang menguat 6,1%.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia mencatatkan dominasi saham yang menguat.
Sebanyak 439 saham ditutup di zona hijau, sementara 217 saham melemah dan 309 saham bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan juga tergolong tinggi dengan total nilai transaksi mencapai Rp16,5 triliun.
Dari sisi sektoral, sektor energi menjadi motor utama penguatan pasar setelah naik 1,5%.
Kenaikan juga terjadi pada sektor barang konsumen primer sebesar 1,4%, kesehatan 1,3%, infrastruktur 1,2%, teknologi 1,1%, properti 0,9%, perindustrian 0,65%, barang baku 0,6%, barang konsumen nonprimer 0,25%, serta transportasi 0,2%.
Sebaliknya, sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang mengalami tekanan cukup dalam dengan penurunan sebesar 1,6%, sehingga membatasi ruang penguatan IHSG.
Menurut analisis Pilarmas Investindo Sekuritas, penguatan IHSG terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah.
Pasar mencermati langkah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali mengumumkan kebijakan blokade terhadap pengiriman Iran melalui Selat Hormuz.
Selain itu, kebijakan pengenaan pungutan sebesar 20% terhadap seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz dinilai memicu kenaikan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi inflasi global dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Meski dibayangi sentimen eksternal tersebut, Pilarmas menilai pasar domestik masih memperoleh dukungan dari fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid.
Salah satu katalis positif datang dari keputusan S&P Global Ratings yang kembali mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada level BBB dengan prospek (outlook) stabil.
Pilarmas berpandangan bahwa keputusan tersebut mencerminkan kepercayaan lembaga pemeringkat internasional terhadap daya tahan ekonomi Indonesia, termasuk konsistensi pemerintah dalam menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Lima Saham Paling Moncer
Di tengah penguatan IHSG yang relatif terbatas, sejumlah saham justru mencatatkan reli signifikan dan menjadi top gainers pada perdagangan hari ini.
PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) memimpin daftar penguatan setelah melonjak 25% ke level Rp260.
Kenaikan serupa juga dibukukan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang melesat 25% menjadi Rp340.
Selanjutnya, PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) menguat 24,5% ke Rp685, diikuti PT Verona Indah Pictures Tbk (VERN) yang naik 20,6% ke Rp193.
Sementara itu, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) turut mencuri perhatian dengan lonjakan 16,3% ke level Rp1.460, sejalan dengan menguatnya sektor energi.
Deretan Saham yang Tertekan
Di sisi lain, sejumlah emiten harus mengakhiri perdagangan di zona merah dengan koreksi cukup tajam.
PT Niramas Utama Tbk (JELI) menjadi saham dengan pelemahan terdalam setelah anjlok 14,9% ke level Rp1.085.
Penurunan juga dialami PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) yang terkoreksi 14,8% menjadi Rp2.810 serta PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) yang melemah 13,8% ke Rp93.
Adapun PT Minahasa Membangun Hebat Tbk (HBAT) ditutup turun 8% ke level Rp274, sedangkan PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) terkikis 7,7% menjadi Rp143.
Pergerakan perdagangan hari ini menunjukkan bahwa meski IHSG hanya menguat tipis, peluang meraih keuntungan tetap terbuka lebar pada saham-saham tertentu yang memperoleh sentimen positif sektoral maupun aksi beli investor.
Di sisi lain, tingginya volatilitas akibat dinamika global mengharuskan pelaku pasar tetap selektif dalam menentukan strategi investasi.












