RADARTASIKMALAYA.TV— Gelombang penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) pada pertengahan 2026 hadir di tengah situasi pasar modal yang belum sepenuhnya kondusif. Jadi mana saham baru paling menarik?
Enam perusahaan secara bersamaan menawarkan saham perdana kepada publik, yakni PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), serta PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS).
Momentum tersebut berlangsung ketika likuiditas perdagangan di Bursa Efek Indonesia masih relatif terbatas, arus dana asing belum sepenuhnya kembali, dan ketidakpastian ekonomi global masih membayangi keputusan investasi.
Di tengah kondisi tersebut, semakin banyak perusahaan justru memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan untuk mendukung ekspansi bisnis.
Fenomena itu membuat kualitas IPO tahun ini sangat bervariasi.
Sebagian emiten menawarkan valuasi yang dinilai menarik dengan fundamental yang solid, sementara sebagian lainnya terlihat murah dari sisi harga, tetapi masih menyimpan sejumlah risiko.
Tidak sedikit pula perusahaan yang memasang valuasi premium meski pertumbuhan bisnisnya belum sepenuhnya teruji.
Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai investor seharusnya tidak menjadikan harga saham sebagai satu-satunya indikator dalam memilih IPO.
Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah kualitas bisnis yang berada di balik harga saham tersebut karena nominal harga tidak selalu mencerminkan murah atau mahalnya sebuah perusahaan.
“Yang seharusnya dibeli investor bukan sekadar harga saham, melainkan kualitas bisnis di balik harga tersebut,” kata Hendra Wardana, Founder Republik Investor dalam keterangannya seperti dikutip, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa saham dengan harga Rp100 belum tentu lebih menarik dibandingkan saham seharga Rp1.000 apabila kemampuan menghasilkan laba, tingkat pengembalian modal, prospek industri, hingga kualitas manajemennya jauh berbeda.
Perbandingan Fundamental Enam Calon Emiten
Hendra menilai keenam calon emiten memiliki karakteristik bisnis, tingkat risiko, serta peluang pertumbuhan yang berbeda sehingga tidak tepat diperlakukan sebagai produk investasi yang seragam.
Perbedaan tersebut terlihat jelas ketika membandingkan JELI, PRDL, dan JECX.
JELI yang dikenal melalui merek Inaco masih memiliki kekuatan utama berupa tingkat pengenalan merek yang tinggi serta jaringan distribusi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Namun, keunggulan tersebut belum sepenuhnya mampu mendorong pertumbuhan bisnis.
Dalam tiga tahun terakhir, pendapatan perusahaan justru mengalami penurunan dari Rp839 miliar menjadi Rp753 miliar.
Walaupun laba bersih meningkat signifikan dari Rp2 miliar menjadi Rp39 miliar, kenaikan tersebut lebih banyak didorong efisiensi biaya dan perbaikan margin dibandingkan peningkatan penjualan.
Hendra menilai kondisi tersebut membuat investor yang membeli JELI pada valuasi sekitar 31 kali laba sebenarnya membayar premi atas efisiensi operasional, bukan atas prospek pertumbuhan bisnis.
Berbeda dengan JELI, PRDL dinilai sebagai salah satu kandidat IPO dengan valuasi paling menarik.
Pada harga penawaran Rp120 per saham, emiten ini diperkirakan memiliki Price to Earnings Ratio (PER) sekitar 12,3 kali, margin laba bersih mencapai 22,8 persen, serta Return on Equity (ROE) sekitar 20,5 persen.
Kombinasi tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan yang cukup tinggi dibandingkan modal yang digunakan.
Meski demikian, valuasi murah tersebut tetap disertai sejumlah tantangan.
Skala usaha PRDL masih relatif kecil, dana yang dihimpun dari IPO hanya sekitar Rp63 miliar, sementara historis labanya masih berfluktuasi sehingga konsistensi pertumbuhan ke depan masih perlu dibuktikan.
Sementara itu, JECX yang bergerak di sektor rumah sakit dinilai memiliki keunggulan karena berada di industri yang cenderung defensif terhadap siklus ekonomi.
Namun, menurut Hendra, keunggulan tersebut belum tercermin pada performa keuangan perusahaan.
Laba bersih tahun 2025 masih berada di bawah capaian 2023, ROE hanya sekitar 8,9 persen, sedangkan valuasi diperkirakan mencapai sekitar 56 kali laba. Dengan kombinasi tersebut, investor dinilai harus membayar harga premium untuk perusahaan yang masih berupaya memulihkan profitabilitasnya.
RANS Tawarkan Diversifikasi Bisnis, Tetapi Masih Mengandalkan Cerita Pertumbuhan
Masuknya prospektus resmi RANS turut mengubah peta persaingan IPO tahun ini.
Kini perusahaan dapat dinilai berdasarkan data fundamental, bukan semata-mata karena popularitas nama besar di balik pendiriannya.
Berdasarkan prospektus, RANS membukukan pendapatan sebesar Rp353,3 miliar dengan laba bersih Rp56,69 miliar sepanjang 2025.
Capaian tersebut menghasilkan margin laba bersih sekitar 16 persen, menjadikannya salah satu emiten dengan tingkat profitabilitas yang cukup kompetitif, hanya berada di bawah PRDL serta melampaui beberapa calon emiten lain seperti BACH, EMMI, JELI, dan JECX.
Menurut Hendra, RANS kini tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai perusahaan media.
Model bisnisnya telah berkembang ke berbagai sektor, mulai dari media digital, talent management, event organizer, hiburan, makanan dan minuman, gaya hidup, kawasan wisata Cipungland, hingga bisnis kosmetik.
Diversifikasi tersebut membuka peluang pertumbuhan pendapatan yang lebih luas dalam jangka panjang.
Namun, karakter bisnis tersebut juga membuat perusahaan cukup bergantung pada daya beli masyarakat.
Ketika konsumsi melemah, belanja untuk hiburan, rekreasi, konser, maupun gaya hidup berpotensi ikut turun sehingga pertumbuhan perusahaan dapat melambat.
Sebagian besar dana hasil IPO juga akan dialokasikan untuk ekspansi usaha, pembentukan anak perusahaan, akuisisi, serta pengembangan lini bisnis baru.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor pada dasarnya sedang membeli prospek pertumbuhan jangka panjang sehingga keberhasilan manajemen dalam mengubah dana IPO menjadi peningkatan laba berkelanjutan akan menjadi faktor penentu utama.
BACH Dinilai Menjadi Kandidat IPO Terbaik
Berdasarkan penilaian komprehensif yang mencakup pertumbuhan pendapatan, pertumbuhan laba, profitabilitas, valuasi, kualitas neraca, hingga potensi likuiditas saham, Hendra menilai BACH masih menjadi kandidat IPO paling menarik.
Perusahaan dinilai mampu mengombinasikan hampir seluruh karakteristik yang selama ini dicari investor, mulai dari skala bisnis yang besar, pertumbuhan laba tahunan majemuk (CAGR) sekitar 111 persen, ROE mencapai 29 persen, hingga valuasi yang relatif murah dengan PER sekitar 11,8 kali.
Kombinasi pertumbuhan tinggi dan valuasi rendah tersebut dinilai cukup langka dalam sebuah IPO karena perusahaan dengan prospek ekspansi besar umumnya menawarkan harga yang jauh lebih premium.
Meski demikian, BACH tetap memiliki risiko berupa porsi free float yang relatif kecil sehingga potensi likuiditas saham setelah pencatatan perlu menjadi perhatian investor.
Di sisi lain, EMMI menawarkan pertumbuhan laba paling agresif dengan CAGR sekitar 466 persen dan ROE sekitar 22 persen.
Namun, struktur keuangannya dinilai masih perlu diperkuat karena rasio lancarnya berada di bawah satu kali.
Dengan valuasi sekitar 26 kali laba, investor dinilai perlu memastikan bahwa lonjakan pertumbuhan tersebut benar-benar berkelanjutan dan bukan hanya bersifat sementara.
Peringkat IPO 2026 Mulai Terbentuk
Berdasarkan keseluruhan parameter fundamental, Hendra menilai kualitas enam IPO tahun ini mulai terlihat lebih jelas.
BACH menempati posisi teratas karena menawarkan keseimbangan terbaik antara valuasi, pertumbuhan, profitabilitas, dan skala bisnis.
PRDL berada di posisi kedua berkat valuasi yang sangat menarik meskipun ukuran bisnisnya masih relatif kecil.
Posisi berikutnya ditempati EMMI yang menawarkan prospek pertumbuhan tinggi, tetapi masih memiliki pekerjaan rumah pada kualitas modal kerja.
Setelah itu terdapat JELI yang masih harus membuktikan bahwa pertumbuhan penjualannya dapat kembali pulih, bukan sekadar mengandalkan efisiensi biaya.
RANS berada di posisi kelima dengan keunggulan berupa margin laba yang cukup baik serta diversifikasi bisnis yang luas.
Sementara itu, posisi terakhir ditempati JECX karena menawarkan valuasi paling premium tanpa diimbangi pertumbuhan laba maupun tingkat pengembalian modal yang sepadan.
Investor Diminta Tidak Terjebak Euforia IPO
Hendra mengingatkan bahwa euforia sering kali menjadi tantangan terbesar bagi investor ketika musim IPO berlangsung.
Tidak sedikit investor membeli saham baru hanya karena nama perusahaan yang populer, tingkat oversubscribe yang tinggi, atau harapan memperoleh keuntungan instan pada hari pertama perdagangan.
Padahal, sejarah pasar modal menunjukkan bahwa keberhasilan investasi jangka panjang lebih banyak ditentukan oleh kualitas fundamental perusahaan dibandingkan ramainya perhatian publik saat penawaran saham berlangsung.
Karena itu, investor disarankan tidak mengambil dua sikap ekstrem, yakni menghindari seluruh IPO hanya karena kondisi pasar sedang bergejolak atau justru membeli semua saham baru tanpa membedakan kualitas masing-masing emiten.
Pendekatan yang lebih rasional adalah memperlakukan IPO sebagaimana investasi pada perusahaan yang telah lama tercatat di bursa, yakni melalui proses due diligence yang menyeluruh.
Investor perlu mempelajari prospektus, memahami model bisnis, menghitung valuasi, mengevaluasi kualitas laba, mencermati penggunaan dana hasil IPO, serta mengidentifikasi risiko industri sebelum mengambil keputusan.
Pada akhirnya, harga saham yang terlihat murah belum tentu benar-benar murah apabila fundamental perusahaan masih rapuh.
Sebaliknya, saham dengan valuasi lebih tinggi belum tentu mahal apabila mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang konsisten dalam jangka panjang.
Menurut Hendra, investor yang sukses di pasar modal bukanlah mereka yang membeli saham pada harga paling rendah, melainkan mereka yang mampu memperoleh perusahaan berkualitas dengan valuasi yang masih masuk akal.












