RADARTASIKMALAYATV— Sejumlah negara di Eropa mulai memetik hasil dari kebijakan pembatasan penggunaan gadget di sekolah. Larangan gadget di sekolah Eropa efektif hingga prestasi akademik meningkat dan kasus cyberbullying menurun.
Langkah yang sempat menuai perdebatan itu kini terbukti memberikan dampak positif, baik terhadap prestasi akademik maupun kesehatan sosial para pelajar.
Belanda dan Prancis menjadi dua negara yang paling konsisten menerapkan aturan tersebut.
Berdasarkan evaluasi berkala yang dilakukan kementerian pendidikan masing-masing negara, pembatasan penggunaan perangkat digital di sekolah berhasil meningkatkan kualitas proses belajar dan menekan berbagai dampak negatif yang selama ini muncul akibat penggunaan ponsel secara berlebihan.
BACA JUGA: Honda Grom 2026 Meluncur, Tampil Lebih Segar dengan Warna Baru dan Fitur Modern
Kebijakan tersebut mulai diterapkan secara ketat sejak Januari 2024.
Hingga pertengahan 2026, hasil pemantauan resmi menunjukkan adanya peningkatan nilai akademik siswa secara signifikan, disertai penurunan tajam kasus perundungan siber atau cyberbullying di lingkungan sekolah.
Belanda Batasi Ponsel hingga Jam Tangan Pintar
Di Belanda, pemerintah pada awalnya melarang penggunaan ponsel, tablet, dan jam tangan pintar di sekolah menengah.
Seiring berjalannya waktu, kebijakan tersebut diperluas hingga mencakup sekolah dasar.
Langkah tersebut diambil untuk mengembalikan fokus siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan meminimalkan berbagai gangguan yang berasal dari perangkat digital.
Prancis Terapkan “Jeda Digital”
Prancis mengambil langkah yang lebih tegas melalui program “Pause Numérique” atau Jeda Digital.
Dalam kebijakan tersebut, seluruh siswa diwajibkan menyimpan ponsel mereka di loker khusus sejak jam pelajaran pertama dimulai.
Dengan demikian, pelajar tidak memiliki akses terhadap perangkat seluler selama berada di lingkungan sekolah, kecuali dalam kondisi tertentu yang telah diatur.
Dari Alat Belajar Menjadi Sumber Distraksi
Pada awalnya, ponsel pintar sebenarnya dimanfaatkan sebagai pendukung pembelajaran digital.
Guru menggunakan perangkat tersebut untuk menggelar kuis daring, mencari referensi di internet, hingga mempermudah pengumpulan tugas.
Namun, dalam praktiknya, penggunaan gadget justru berkembang menjadi sumber gangguan konsentrasi.
Banyak siswa diketahui memanfaatkan ponsel untuk bermain gim, membuka media sosial, hingga saling mengirim pesan bernada ejekan yang kemudian berujung pada tindakan perundungan siber.
Konsentrasi Belajar Meningkat, Konflik Antar-Siswa Menurun
Laporan dari berbagai institusi pendidikan di Belanda menunjukkan bahwa hilangnya distraksi dari ponsel membuat tingkat konsentrasi siswa meningkat secara signifikan. Dampaknya terlihat dari perbaikan hasil tes akademik yang dicapai secara kumulatif.
Sementara itu, evaluasi di Prancis mencatat penurunan konflik antarpelajar dan berkurangnya kasus cyberbullying.
Para siswa juga dilaporkan kembali aktif berinteraksi secara langsung dengan teman-teman mereka, terutama saat jam istirahat sekolah.
Interaksi tatap muka yang sebelumnya tergeser oleh layar ponsel perlahan kembali menjadi bagian dari kehidupan sosial para pelajar.
Kualitas Tidur dan Kesehatan Emosi Ikut Membaik
Tidak hanya berdampak pada prestasi belajar, berkurangnya paparan layar selama jam sekolah juga disebut berkontribusi terhadap kualitas tidur siswa di rumah.
Kondisi tersebut berdampak pada kebugaran fisik dan kestabilan emosi pelajar saat memulai aktivitas belajar keesokan harinya.
Dengan kata lain, manfaat yang dirasakan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.
Sempat Menuai Kekhawatiran Orang Tua
Di balik keberhasilan yang diraih, kebijakan tersebut sempat memunculkan kekhawatiran dari sebagian orang tua.
Mereka menganggap pembatasan ponsel dapat menyulitkan komunikasi dengan anak, terutama dalam situasi darurat.
Kritik juga datang dari sejumlah kalangan yang berpendapat bahwa sekolah seharusnya mengajarkan penggunaan teknologi secara bijak, bukan justru menjauhkannya sepenuhnya.
Di sisi lain, terdapat pandangan bahwa pendidikan mengenai disiplin penggunaan teknologi semestinya dimulai dari rumah.
Peran orang tua dinilai lebih dominan dalam membentuk kebiasaan digital anak dibandingkan hanya mengandalkan kurikulum sekolah.
Pelajaran Penting bagi Indonesia
Keberhasilan yang dicatat Belanda dan Prancis menjadi perhatian penting bagi Indonesia yang hingga kini belum memiliki regulasi nasional terkait pembatasan penggunaan ponsel di sekolah.
Saat ini, kebijakan serupa masih diterapkan secara terbatas dan bergantung pada aturan masing-masing sekolah.
Pemerintah dinilai perlu mempertimbangkan penyusunan regulasi nasional mengenai penggunaan gawai di lingkungan pendidikan.
Namun, kebijakan tersebut harus dibarengi dengan sistem komunikasi darurat yang jelas antara sekolah dan orang tua agar keamanan siswa tetap terjamin.
Melalui pengaturan yang tepat, ruang kelas dapat kembali berfungsi sebagai tempat tumbuh kembang mental, sosial, dan intelektual anak secara optimal.
Selain itu, generasi muda juga dapat terhindar dari risiko kecanduan digital yang semakin menjadi tantangan di era modern.






