RADARTASIKMALAYA.TV— Tim pengabdian masyarakat Universitas Siliwangi kembali memperkenalkan produk teknologi autofeeder untuk diaplikasikan pada bidang budidaya ikan bagi masyarakat di Perumahan Viola Griya Asri 3, Desa Gunajaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Senin, 29 Juni 2026.
Inovasi teknologi autofeeder ini berbasis daur ulang limbah industri yang mudah dan murah serta dapat ditemui di sekitar lingkungan kita.
Dalam paparannya, Randi Fadillah G, MPd, dosen FISIP Universitas Siliwangi bahwa teknologi autofeeder terbilang murah dan murah, karena bahan yang dibutuhkan merupakan limbah industri yang ada di sekitar lingkungan masyarakat.
Salah satu bahan utamanya berupa ember cat bekas dan pipa plastik bekas dan timer sebagainya.
Pemanfaatan teknologi autofeeder, selain untuk budidaya ikan, juga bisa diaplikasikan pada budidaya ternak, seperti unggas. Namun saat ini, teknologi autofeeder masih diaplikasikan pada budidaya ikan.
Randy Fadillah menjelaskan, teknologi autofeeder sangat bermafaat bagi masyarakat yang mulai belajar budidaya ikan dalam skala kecil, tanpa menyita waktu untuk pemberian pakan.
“Nah, ketika kita berbicara mengenai orang yang sedang berusaha, khususnya mitra dalam pengabdian ini, ada beberapa permasalahan ketika kita berbicara mengenai budidaya (ikan). Bagaimana caranya kita melakukan budidaya tanpa menyita waktu dan efektif? Contoh, ketika kita melakukan budidaya baik perikanan, peternakan, dan lain sebagainya, disiplin untuk pemberian pakan itu sangat menentukan efektifitas daripada produksi peternakan atau perikanan,” ujarnya.
Rata-rata pemberian pakan ikan harus dilakukan di 3 sampai 4 kali per hari dan tepat untuk menjaga tumbuh kembangnya ikan budidaya. Ketika budidaya ikan, sebagai kegiatan sampingan, untuk mendapat tambahan penghasilan, ketepatan waktu untuk pemberian pakan sangat menyita waktu. Hal ini bisa berdampak pada pekerjaan pokok. Jawabannya, ada pada teknologi autofeeder.
“Tapi ketika menggunakan autofeeder ini, kita bisa setting timer di dalam pemberian pakan, jam-jam berapa saja kita akan memberikan pakan, dan berapa gram atau berapa kapasitas yang akan kita berikan bisa diatur,” kata Randy.
Saat ini, kata Randy, teknologi autofeeder banyak dijual di pasaran. Tapi, harganya cukup mahal.
“Nah di sini, teknologi yang kita pakai adalah teknologi limbah bekas. Dimana kita bisa memanfaatkan ember-ember bekas yang sudah tidak bisa terpakai,” tegasnya.
Diakui Randy, untuk catudaya teknologi autofeeder, bisa menggunakan listrik rumah jika lokasinya di halaman rumah. Atau menggunakan solarpanel jika jauh dari sumber listrik. “Karena daya listrik sangat efisien.” tutupnya.
Dalam sambutan saat membuka acara, Dr Lilis Rosita, MSi, dosen FISIP Universitas Siliwangi mengatakan pengabdian masyarakat adalah upaya Unsil sebagai lembaga pendidikan membagikan hasil penelitian berupa bidang teknologi tepat guna kepada masyarakat.
“Karena pengabdian masyarakat itu berhasil jika ada partisipasi aktif dari masyarakat memberikan ide, kemudian akademisi di kampus meneliti teknologinya, kemudian diaplikasinya ke masyarakat untuk manfaat yang lebih besar,” ujarnya.






